BAB I : PENDAHULUAN

Beberapa alasan yang menjadikan seseorang melakukan poligami bawah tangan antara lain, yaitu:

  1. Proses poligami yang dianggap sangat menyulitkan dan terlalu berbelit-belit.
  2. Kurangnya kesadaran akan pentingnya arti sebuah perkawinan, sehingga dengan jalan pintas melakukan poligami bawah tangan.
  3. Atas dasar keterpaksaan. Ini lebih dimungkinkan karena calon isteri yang yang akan dipoligami sudah mengandung.
  4. Adanya rasa ketidakpuasan atau kurangnya ketentraman dalam sebuah rumah tangga.
  5. Jauh dari isteri, sehingga jarang untuk melakukan hubungan intim.

Untuk membahas tentang poligami, maka perlu peneliti menjelaskan terlebih dahulu tentang perkawinan. Perkawinan merupakan salah satu asas pokok hidup yang terutama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna, bukan saja perkawinan itu satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi perkawinan itu dapat dipandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu kaum dengan kaum yang lain. Serta perkenalan itu akan menjadi jalan untuk saling tolong-menolong antara yang satu dengan yang lain.

Perkawinan, atau tepatnya “berpasangan” merupakan ketetapan Ilahi atas segala makhluk. Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Oleh karena itu, agama mensyari’atkan dijalinnya pertemuan antara pria dan wanita, dan kemudian mengarahkan pertemuan itu sehingga terlaksananya “perkawinan” menuju ketentraman keluarga.

Dalam hal ini sesuai dengan pasal 1 Undang-undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan, bahwa:

“Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istreri dengan tujuan membentuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Dalam hadits Nabi Muhammad SAW dijelaskan:

عَنْ عِمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ يَزِيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ. فَاِنَّهُ أََََغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ، فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ وِجَاء.ٌ{رواه مسلم}

“Dari I’marah bin Umair, dari Abdur Rahman bin Yazid, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata; Rasulullah saw bersabda kepada kami: Hai kaum pemuda, apabila di antara kamu kuasa untuk kawin, hendaklah ia kawin. Sebab kawin itu lebih kuasa untuk menjaga mata dan kemaluan, dan barang siapa tidak kuasa hendaklah ia berpuasa sebab puasa itu penjaga baginya”. (HR.Muslim)

Pada dasarnya perkawinan juga dianjurkan oleh Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-qur’an surat An-nisa’ ayat 3:

فََََانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنى وَثُلثَ وَرُبعَ ج فَاِنْ خِفْتُمْ الاَتَعْدِلُوْا َفوَاحِدَةً اوَمَامَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْقلى ذلِكَ اَدْنىاَلاَّتَعُوْلُوْا.{النّسآء: 3}

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[5] (QS. An-nisa’: 3)

Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri. Seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. (Pasal 3 ayat 1 dan 2 UU. No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan).

Ada 5 asas penting yang perlu diketahui dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, yaitu:

  1. Bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Bahwa suatu perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut perundang-undangan yang berlaku.
  3. Bahwa calon suami isteri harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan, sehingga perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.
  4. Bahwa Undang-undang ini menganut asas monogami, yaitu seorang pria  hanya boleh mengawini seorang wanita. Namun apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan, maka diperbolehkannya poligami. Karena memang dasar hukum dan agama Islam mengizinkan seorang suami dapat beristri lebih dari seorang.
  5. Bahwa suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat. Sehingga hak dan kewajiban istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup dalam masyarakat untuk membina keluarga.[6]

Undang-undang RI tentang perkawinan maupun hukum Islam sama-sama membolehkan poligami, jika syarat-syarat yang dapat menjamin keadilan suami kepada isteri terpenuhi. Hukum Islam tidak menutup rapat pintu kemungkinan untuk berpoligami, atau beristeri lebih dari seorang wanita, sepanjang persyaratan keadilan di antara isteri dapat dipenuhi dengan baik.[7]

Hukum Islam memang memperbolehkan poligami, namun hukum Islam tidak mengatur tata cara secara administratif dalam pelaksanaan poligami. Agar poligami dapat dilaksanakan tertib secara hukum pemerintah, tidak merugikan salah satu pihak dan tidak terjadi kesewenang-wenangan terhadap isteri, maka hukum Islam di Indonesia mengatur mengenai  proses poligami tersebut.

Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 40 menyebutkan, bahwa:

 “Apabila seorang suami bermaksud untuk beristeri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada pengadilan”.[8]

Sedangkan Inpres No. 1 tahun 1991 tentang kompilasi hukum Islam pasal 56 dan pasal 57 disebutkan:

Pasal 56:

1)      Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama.

2)      Pengajuan permohonan izin dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut tata cara sebagaimana diatur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975

3)      Perkawinan yang dilakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Pasal 57:

“Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:

  1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri
  2. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan
  3. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan[9]

Selanjutnya dalam pasal 58 dijelaskan bahwa seorang suami yang akan berpoligami juga harus mendapat persetujuan isteri dan adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka. Persetujuan isteri ini dapat diberikan secara tertulis ataupun secara lisan, namun begitu persetujuan ini harus dipertegas secara lisan oleh isteri atau isteri-isterinya di pengadilan agama.

Pengadilan agama setelah menerima permohonan izin poligami, kemudian memeriksa:

  1. Ada atau tidaknya alasan yang memungkinkan seorang suami kawin lagi.
  2. Ada atau tidaknya persetujuan dari isteri, baik persetujuan lisan maupun tertulis, apabila persetujuan itu merupakan persetujuan lisan, persetujuan itu harus diucapkan di depan sidang pengadilan.
  3. Ada atau tidaknya kemampuan suami untuk menjamin keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak, dengan memperlihatkan:
    1. Surat keterangan mengenai penghasilan suami yang ditanda tangani oleh bendahara tempat bekerja.
    2. Surat keterangan pajak penghasilan.
    3. Surat keterangan lain yang dapat diterima oleh pengadilan.[10]

Beberapa alasan yang menjadikan seseorang melakukan poligami bawah tangan antara lain, yaitu:

  1. Proses poligami yang dianggap sangat menyulitkan dan terlalu berbelit-belit.
  2. Kurangnya kesadaran akan pentingnya arti sebuah perkawinan, sehingga dengan jalan pintas melakukan poligami bawah tangan.
  3. Atas dasar keterpaksaan. Ini lebih dimungkinkan karena calon isteri yang yang akan dipoligami sudah mengandung.
  4. Adanya rasa ketidakpuasan atau kurangnya ketentraman dalam sebuah rumah tangga.
  5. Jauh dari isteri, sehingga jarang untuk melakukan hubungan intim.

Adanya penyimpangan-penyimpangan itu disebabkan oleh faktor norma yang berlaku di masyarakat yang telah lama mengakar semenjak Islam berkembang di Indonesia. Sehingga hukum Islam yang berlaku di Indonesia dapat dibagi dalam dua bentuk;

  1. Hukum Islam yang berformil yuridis, yaitu sebagian dari hukum Islam yang mengatur hubungan manusia di dalam masyarakat yang disebut dengan muamalah.
  2. Hukum Islam yang berlaku normatif, yaitu bagian hukum Islam yang yang telah berkembang pada masyarakat. Pelaksanaannya tergantung pada kuat-lemahnya kesadaran masyarakat muslim mengenai norma-norma hukum Islam yang bersifat normatif itu.[11]

Kenyataan seperti ini tidak mudah untuk dihilangkan sehingga tidak sedikit ditemukan penyimpangan-penyimpangan dalam hukum perkawinan terutama poligami. Masalah penyimpangan tidak hanya terdapat pada suatu daerah tertentu saja, hampir di semua daerah yang memiliki norma hukum berbeda dengan ketentuan formal yuridis, cenderung melakukan pelanggaran hukum.

Berangkat dari latar belakang di atas, peneliti ingin mengetahui lebih jauh mengenai praktek poligami bawah tangan, faktor-faktor apa yang menyebabkan poligami bawah tangan serta bagaimana pengaruhnya terhadap keluarga. Maka rasa ingin tahu tersebut tertuang dalam  bentuk penulisan skripsi dengan judul: “Analisis Hukum Islam Tentang Poligami Bawah Tangan Dan Pengaruhnya Terhadap Keluarga (Studi Kasus)”.

 A.    PERMASALAHAN

Berdasarkan dari uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam skripsi ini adalah:

  1. Bagaimana praktek poligami bawah tangan?
  2. Faktor-Faktor apa yang menyebabkan terjadinya praktek poligami bawah tangan?
  3. Sejauh mana pengaruh poligami bawah tangan terhadap kehidupan keluarga?

 

B.     TUJUAN PENULISAN SKRIPSI

Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui praktek poligami bawah tangan.
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya praktek poligami bawah tangan.
  3. Untuk mengetahui pengaruh poligami bawah tangan terhadap kehidupan keluarga.

C.    TELAAH PUSTAKA

Telaah pustaka adalah menyediakan informasi tentang penelitian-penelitian atau karya-karya ilmiah lain yang berhubungan dengan penelitian yang akan diteliti agar tidak terjadi duplikasi atau pengulangan dengan penelitian yang telah ada.

Di samping itu, dapat memberikan rasa percaya diri dalam melakukan penelitian. Sebab dengan telaah pustaka semua konstruksi yang berhubungan dengan penelitian yang telah tersedia, kita dapat menguasai banyak informasi yang berhubungan dengan penelitian yang kita lakukan.[12]

Berikut ini adalah beberapa karya ilmiah baik dalam bentuk buku yang berkaitan dengan penelitian, antara lain:

Dalam buku yang berjudul “Bahan Penyuluhan Hukum” (Departemen Agama Republik Indonesia tahun 2000), menjelaskan tentang Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, peraturan pemerintah RI Nomor 9   tahun 1975 tentang pelaksanaan undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Inpres Nomor 1 tahun 1991 tentang kompilasi Hukum Islam dari pasal perpasal.[13]

M. Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul ”Wawasan Al-qur’an” (2000), dijelaskan tentang pengertian nikah dan poligami, tujuan perkawinan, syarat sahnya perkawinan dan tanggung jawab suami terhadap keluarga.[14]

Siti Musdah Mulia, dalam bukunya yang berjudul “Islam Menggugat Poligami”, menjelaskan tentang makna poligami, sejarah asal-usul poligami, alasan berpoligami di masyarakat, dan berbagai implikasi poligami baik implikasi sosio-psikologis, implikasi kekerasan terhadap perempuan dan implikasi sosial terhadap masyarakat. Dalam buku tersebut juga diterangkan perlunya upaya-upaya pemberdayaan perempuan, terutama agar mereka mengerti akan hak-hak mereka sehingga memiliki posisi tawar yang tinggi dalam kehidupan rumah tangga.[15]

Yusuf Qardhawi, dalam bukunya yang berjudul “Fatwa-fatwa Kontemporer”, yang menjelaskan tentang tata cara pernikahan dan poligami serta hikmah pernikahan dan poligami.[16]

Sulaiman Rasjid, dalam bukunya yang berjudul “Fiqh Islam”, menjelaskan tentang hukum nikah dan poligami, syarat dan rukun nikah, serta pergaulan di dalam keluarga.[17]

Abdul Manan, M. Fauzan, dalam bukunya yang berjudul “Pokok-Pokok Dalam Hukum Perdata (Wewenang Peradilan Agama)” menjelaskan tentang; Bidang-bidang hukum perkawinan (izin beristeri lebih dari satu orang), izin melakukan perkawinan dan pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan dijalankannya menurut peraturan yang lain.[18]

Rahmat Hakim, dalam bukunya yang berjudul “Hukum Perkawinan Islam”, yang membahas tentang arti dan hukum nikah, tujuan dan hikmah nikah, saksi dalam nikah, wali dalam nikah, pelaksanaan nikah dan poligami.[19]

Dari beberapa karya ilmiah dalam bentuk buku tersebut di atas dapat dijelaskan oleh penulis bahwa pembahasan mengenai poligami bawah tangan dan pengaruhnya terhadap keluarga dapat mengambil sebagian pendapat dari para ahli tersebut berdasarkan bukunya masing-masing.. Hal ini dimaksudkan untuk memberi gambaran atau pendapat penulis sekaligus memberikan pertimbangan untuk mengemukakan pendapat mengenai poligami bawah tangan.

Adapun hal-hal yang perlu diungkap berdasarkan pertimbangan pendapat para ahli oleh penulis antara lain tentang pengertian nikah, dasar hukum nikah, tujuan dan hikmah nikah, saksi dalam nikah, wali dalam nikah, pelaksanaan nikah dan poligami berdasarkan syaria’at Islam dan ketentuan undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan sekaligus Inpres No 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.

D.    METODE PENULISAN SKRIPSI

Metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu cara-cara yang dipergunakan untuk menganalisa atau menguraikan bentuk teoritis untuk diimplementasikan dalam bentuk applikatif.

1.      Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu strategi dan teknik penelitian yang digunakan untuk memahami masyarakat, masalah atau gejala dalam masyarakat dengan mengumpulkan sebanyak mungkin fakta secara detail dan mendalam. Data yang disajikan pun dalam bentuk verbal dan bukan dalam bentuk angka.

Pendekatan kualitatif ini digunakan dengan pertimbangan:

  1. Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda.
  2. Metode ini menyajikan secara langsung pada hakekat hubungan antara peneliti dengan responden.
  3. Metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan pola-pola nilai yang dihadapi anak didik.[20]

2.      Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat kualitatif, artinya data yang dikumpulkan berupa kata-kata, hasil pengamatan, dan bukan angka-angka, dimana disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif.[21] Dalam pengertian ini, hal yang akan dideskripsikan adalah tentang praktik poligami bawah tangan dan pengaruhnya keluarga.

3.      Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam skripsi ini adalah terdiri dari:

  1. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data yang langsung berkaitan dengan obyek penelitian, yaitu berupa kata-kata dan tindakan yang secara langsung melakukan poligami bawah tangan. Sedangkan data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara.

  1. Sumber Data Sekunder

Sedangkan yang dimaksud sumber sekunder adalah berbagai data yang mendukung dan berkaitan dengan judul skripsi, sedangkan sumber sekunder yang dipakai dalam skripsi ini dapat berasal sumber tidak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip resmi,[23] dan data-data lain yang terkait dengan masalah yang diteliti.

4.      Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a.      Observasi (Pengamatan).

Metode observasi adalah metode pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki.

b.      Studi Pustaka

Dalam mengumpulan data di penelitian ini juga menggunakan metode studi pustaka (library research),[25] yaitu data yang berasal dari sumber-sumber literatur atau data kepustakaan, peneliti melakukan penelaahan terhadap buku-buku yang berkaitan dengan pokok permasahan yang dibahas, yaitu dengan cara membaca, memahami dan menyimpulkan dari berbagai buku dan karya ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini.

Studi pustaka yang diterapkan dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data skunder tentang poligami dan pengaruhnya terhadap keluarga.

Studi pustaka yang dilakukan peneliti juga akan membantu peneliti untuk menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan tentang pendapat para ahli dalam masalah ini.

c.       Teknik Wawancara

Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah dengan metode wawancara, yaitu cara mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.[26] Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang mendukung tentang masalah-masalah yang dibahas dalam masalah ini. Sedangkan obyek dari teknik wawancara ini adalah orang-orang yang sehari-harinya dekat dengan obyek penelitian, yaitu warga sebagai sample yang melakukan poligami bawah tangan serta orang-orang yang bersangkutan. Hal ini untuk mengetahui factor dan pengaruh yang ditimbulkannya atas poligami bawah tangan.

5.      Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul melalui teknik pengumpulan data, langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut dengan memberikan penafsiran data yang diperoleh dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa atau kejadian yang terjadi pada saat sekarang yang berhubungan dengan tema atau obyek penelitian.[27]

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan salah satu jenis penelitian deskriptif, yaitu studi kasus (case study). Studi kasus merupakan penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Subyek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga maupun masyarakat. Tujuan studi kasus ini untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus atau pun status dari individu yang kemudian akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum.[28]

Dalam penelitian ini, data yang terkumpul berbentuk kata-kata, dan bukan angka. Kalau pun ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang. Data yang diperoleh meliputi transkip, interview, catatan lapangan dan lain-lain.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode observatif kualitatif, dimana setelah memperoleh data dari hasil pengamatan dan wawancara, peneliti kemudian menyusun data tersebut, menjelaskan dan dilanjutkan dengan menganalisis data tersebut.

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Menelaah data yang diperoleh dari informan dan literature terkait
  2. Mengklasifikasikan data dan menyusun berdasarkan kategori-kategori
  3. Setelah data tersusun data terklasifikasi kemudian langkah selanjutnya adalah kesimpulan atau penarikan kesimpulan berdasarkan data yang ada.

E.     SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI

Sistematika Penulisan ini merupakan hal yang sangat penting karena mempunyai fungsi untuk menyatakan garis-garis besar masing-masing bab yang saling berurutan. Hal ini dimaksudkan agar penulis dapat memperoleh penelitian yang alamiah dan sistematis. Dalam usulan penelitian ini, penulis akan membagi dalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab I menjelaskan tentang latar belakang permasalahan mengapa penulis mengambil topik ini, kemudian akan dipaparkan batasan-batasan perumusan masalah untuk menghindari meluasnya pembahasan skripsi ini. Selanjutnya dijelaskan tentang tujuan penulisan skripsi ini dan tinjauan kepustakaan guna mempermudah penulis dalam mencari data-data pendukung tentang poligami, yang paling substansial adalah memuat metodologi yang akan menjadi pembahasan pada bab berikutnya. Dalam hal ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk memaparkan masalah-masalah poligami.

Bab II membahas secara umum tentang nikah dan poligami dimulai dari pengertian dan dasar hukum nikah, tujuan nikah, rukun dan syarat nikah. Di samping itu, juga memaparkan tentang poligami dalam Islam.

Bab III menjelaskan tentang sosio-geografis obyek. Pada bab ini, juga memaparkan tentang praktek poligami bawah tangan dan pengaruhnya terhadap keluarga.

Bab IV adalah analisis data dari semua data yang telah diperoleh. Sehingga nantinya dapat menghasilkan pemahaman baru tentang poligami bawah tangan dan pengaruhnya terhadap keluarga.

Bab V merupakan bab penutup yang di dalamnya akan dikemukakan kesimpulan-kesimpulan dari seluruh upaya penulis dalam penelitian ini. Di samping itu, penulis tidak lupa untuk memberikan saran-saran dan harapan-harapan. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk memperoleh kritik dari pembaca agar nantinya penulis dapat berkarya lebih baik.