Kedisiplinan guru dalam mengajar dapat mempengaruhi prestasi anak didik, maka seorang guru sangat berperan penting dalam proses belajar-mengajar itu sendiri. Guru mempunyai tanggung jawab dalam keefektifan dan keberhasilan seluruh usaha kependidikan di sekolah, termasuk dalam pembentukan kepribadian peserta didik, peran dan tanggung jawab guru sangat besar dalam usaha pendidikan di sekolah. Sehingga termasuk tercapainya prestasi belajar fikih bagi peserta didik dapat dipengaruhi oleh keaktifan dan kedisiplinannya.

Secara umum, belajar merupakan; (a) Usaha dengan sungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki, baik fisik, mental serta dana, panca indera, otak dan anggota tubuh lainnya, aspek-aspek kejiwaan seperti (inteligensi, bakat, motivasi, minat dan sebagainya), (b) Belajar untuk mengadakan perubahan di dalam diri antara lain tingkah laku, (c) Belajar untuk mengubah kebiasaan dari yang buruk menjadi baik, (d) Belajar untuk mengubah sikap dari negatif menjadi positif, dan (e) Belajar untuk dapat mengubah ketrampilan.

Hal tersebut di atas ditegaskan Sumadi Suryabrata, belajar merupakan membawa perubahan, sedangkan perubahan tersebut pada pokoknya mendapatkan kecakapan baru, dan perubahan itu terjadi karena usaha yang dilakukan dengan sengaja. Berkaitan dengan belajar, dalam hal ini pendidikan merupakan segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohani ke arah kedewasaan.

Hal tersebut di atas sesuai dengan makna pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab I pasal 1 ayat 1 yang berbunyi:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan di sekolah termasuk di MI merupakan pendidikan Islam, maka tujuan pendidikan di sana pada dasarnya adalah membina manusia beragama, yang berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan hidup dunia dan akhirat. Sehingga tujuan pendidikan Islam di sekolah pada pokoknya dapat dimaksudkan untuk membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT, sedangkan keberhasilan pendidikan tersebut dapat dipengaruhi oleh perasaan, lingkungan dan pengalaman yang mempengaruhinya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Ankabut ayat 43, yaitu:

وَتِلْكَ اْلامْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا اِلاَّ الْعَالِمُوْنَ (الملك : 43)

“Dan perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, tidak mungkin dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. (QS. al-Ankabut ayat 43).

Berkaitan dengan dengan hal ini, pelajaran fikih di Madrasah Ibtidaiyah, termasuk MI merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang mempelajari tentang fikih ibadah, terutama menjelaskan tentang pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan rukun Islam dan pembiasaannya dalam kehidupan sehari-hari, serta fikih muamalah yang menjelaskan tentang pengenalan dan pemahaman tentang ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, kurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.

Agar tujuan belajar fikih di MI dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan beberapa cara untuk mencapai prestasi belajar fikih, salah satunya adalah dapat dipengaruhi oleh kedisiplinan guru mata pelajaran fikih itu sendiri dalam proses belajar-mengajar fikih.

Guru sangat berperan penting dalam proses belajar-mengajar. Guru mempunyai tanggung jawab dalam keefektifan dan keberhasilan seluruh usaha kependidikan di sekolah, termasuk dalam pembentukan kepribadian peserta didik, peran dan tanggung jawab guru sangat besar dalam usaha pendidikan di sekolah. Sehingga termasuk tercapainya prestasi belajar fikih bagi peserta didik dapat dipengaruhi oleh keaktifan dan kedisiplinannya.

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 40 ayat 2, maka tugas dan kewajiban guru adalah menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dilogis; mempunyai komitmen secara professional untuk meningkatkan mutu pendidikan; memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Berkaitan dengan ini, kedisiplinan guru pelajaran fikih meliputi; kedisiplinan dalam kehadirannya untuk mengajar fikih, kedisiplinannya dalam menyampaikan pengajaran fikih, kedisiplinannya dalam memberikan tugas pelajaran fikih, dan kedisiplinannya dalam mengevaluasi pelajaran fikih. Maka bentuk-bentuk kedisiplinan guru tersebut akan dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta didik termasuk prestasi belajar fikih di sekolah, dalam hal ini prestasi belajar fikih adalah nilai harian, nilai tugas, nilai mid semester I, dan nilai tes semester I mata pelajaran fikih.