Thalak atau perceraian adalah perbuatan yang diperbolehkan tetapi sangat dibenci oleh Allah. Thalak berarti pembatalan pernikahan, sementara pernikahan adalah perjanjian maslahah yang disunnahkan bahkan bisa menjadi diwajibkan, sebab pernikahan merupakan sarana menuju kepada maslahah dunia dan akhirat. Sementara pembatalan maslahah itu suatu kerusakan dan juga memutuskan sunnah serta menghilangkan kewajiban,sehingga Allah tidak suka dan tidak rela terhadap thalak.

Syariat Islam menetapkan berbagai persyaratan untuk terlaksananya perceraian. Tujuannya adalah menjaga ikatan perkawinan sebagai hal yang suci, tidak boleh hancur berantakan hanya karena persoalan yang remeh, bukan karena terdesak keadaan memaksa. Diantara berbagai persyaratan itu ialah ketentuan waktu perceraian. Siapa yang hendak mencerakan istrinya -bila tidak dapat dicegah- ia harus memilih waktu yang cocok dan sesuai dengan keadaan lstri yang hendak dicerainya.

Menurut sunnah, isteri hanya boleh dicerai dalam keadaan thuhr (suci), tidak dalam keadaan haid atau suci dan sudah digauli. Firman Allah:

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ

Artinya: “Hai Nabi, (katakanlah kepada orang-orang yang beriman) jika kalian (berniat) mencerai istri-istri kalian, hendaklah mereka kalian cerai pada waktu mereka dapat menghadapi (iddahnya) tanpa kesulitan”. (QS. at-Thalak: 1)

Kalimat لِعِدَّتِهِنَّ (dapat menghadapi iddahnya) diartikan “pada waktu dalam keadaan thuhr dan belum digauli” dengan maksud agar mereka tidak menghadapi kesulitan setelah dicerai. Sebagaimana dapat diketahui bahwa haid membuat wanita dalam keadaan lemah dan tidak bugar karena itu suami tidak boleh melepaskannya sebelum thuhr sehingga kondisi fisik dan mentalnya menjadi sehat bugar kembali. Jadi yang benar menurut syariat adalah mencerai istri dalam keadaan thuhr dan belum digauli. Mencerai istri dalam keadaan haid atau dalam keadaan thuhr setelah digauli, merupakan thalak yang dipandang haram (terlarang).

Demikian juga dalam Kompilasi Hukum Islam mengatur perihal putusnya perkawinan. Diantaranya pada pasal 116 menyebutkan tentang alasan-alasan yang diharus dipenuhi untuk melakukan talak. Dan pada pasal 122 tentang tidak bolehnya menjatuhkan talak pada waktu istri dalam keadaan haid (datang bulan) atau dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut.

Persoalan thalak yang dilakukan terhadap perempuan apalagi jika talak itu dilakukan terhadap wanita yang sedang dalam kondisi haid perlu mendapat perhatian yang lebih serius mengingat fenomena yang ada, yakni berkaitan dengan maraknya praktek perceraian, kawin kemudian cerai lagi nampak pada akhir-akhir ini kembali menjadi trend pada sebagian masyarakat kita sehingga membutuhkan kajian ulang mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan hukum thalak (perceraian) tersebut. Sebab diharapkan perceraian yang terjadi tidak meninggalkan permasalahan yang lebih rumit di kemudian hari terutama yang berkaitan dengan persoalan thalak yang dilakukan terhadap perernpuan yang sedang dalam kondisi haid.

Untuk menyikapi persoalan tersebut perlu adanya upaya pemahaman dan pencarian dasar hukum yang kuat untuk mengatasi problematika tersebut, yang dalam hal ini penulis akan melacak pendapat Yusuf al­-Qardhawi.

Gagasan mengadakan studi analisis kritis terhadap pendapat Yusuf al-Qardhawi ini dipandang perlu, mengingat adanya fenomena perkembangan tehnologi modern yang nantinya akan berpengaruh terhadap pola pikir dan pola pemahaman terhadap agama khususnya mengenai hal­-hal yang berkaitan dengan hukum. Disamping itu keinginan adanya studi analisis terhadap suatu pemikiran hukum bersifat alami, hal ini didasarkan pada prinsip bahwa hukum itu berjalan sesuai dengan illatnyaatau dengan kata lain hukum dipengaruhi perkembangan waktu, situasi dan tempat yang menyertai tokoh tersebut.