Contoh Proposal Skripsi Fakultas Usuludin

A. Latar Belakang Masalah

Memahami agama, mestinya tidak sebatas pada pemahaman agama secara formal, melainkan juga harus dipahami sebagai sebuah kepercayaan, sehingga ketika orang memahaminya maka ia akan bersikap toleran kepada pluralisme dan tidak arogan terhadap agamanya sendiri. Amat disayangkan bila memandang agamanya sebagai klaim kebenaran tunggal dan paling baik. Sementara itu agama lain dipandang telah menglami reduksionisme, karena itu tidak benar dan kurang sempurna. Sikap ini memunculkan hegemoni agama formal sedemikian rupa sehingga agama lokal, agama suku ataupun agama kecil terpinggirkan oleh agama formal.

Menurut Mu’min A. Sirry, bahwa perbedaan agama sama sekali bukan halangan untuk melakukan kerjasama, bahkan Al-Qur’an menggunakan kalimat lita’arofu, supaya saling mengenal, yang kerap diberi konotasi “saling membantu”. Nabi Muhammad. SAW sendiri memberi banyak teladan dalam hal ini. Misalnya, Nabi pernah mengizinkan delegasi Kristen Najran yang berkunjung ke Madinah untuk berdo’a dikediaman beliau tatkala menjadi pemimpin Madinah, beliau pernah berpesan : “Barangsiapa menggangu ummat agama Samawi, maka ia telah mengganggu ku”.[2]

Hubungan sesama warga Negara yang muslim dan yang non muslim sepenuhnya ditegakkan atas asas-asas toleransi, keadilan, kebajikan, dan kasih sayang  yaitu asas yang tidak pernah dikenal oleh kehidupan manusia sebelum Islam dan masih merupakan barang langka sehingga menyebabkan ummat manusia merasa mengalami bergagai penderitaan yang amat pedih.[3]Melihat kondisi Indonesia yang berragam suku, budaya dan adat istiadat serta agama tidak mungkin bila tidak terjadi perbedaan. Dalam agama rawan sekali adanya perselisihan, untuk itu pemerintah melindungi ummat beragama dan menganjurkan untuk rukun pada sesamanya. Di Indonesia tidak lepas munculnya pluralisme agama dan keberagamaan ummat manusia tidak dapat terelakan lagi serta merupakan bagian dari hokum sejarah.

Menurut W.J.S Purwodarminto, toleransi adalah sikap atau sikap menenggang berupa menghargai serta membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan kepercayaan maupun yang lainnya berbeda dengan pendiriannya sendiri.[4]

Bisa dikatakan bahwa toleransi adalah hubungan sesama manusia dengan manusia atau berdampingan secara rukun dan menerima perbedaan yang lain dalam suatu kelompok. Hidup rukun berarti saling tenggang rasa dan lapang dada satu sama lain. Rukun berarti saling menghormati, menghargai, saling menerima seperti apa adanya. Dari sini dapat dikemukakan bahwa kerukunan menyangkut masalah sikap dan ini tidak terpisah dari etika yang erat terkait dan terpancar keluar dari agama yang diyakini.[5] Setiap agama pasti mengajarkan dan menanamkan sikap perdamain dan kerukunan sebagai manifestasi dari semangat toleransi. Karena itu, umat manusia perlu menyadari dan memahami bahwa semua agama pada prinsipnya mengajarkan toleransi, perdamaian dan kerukunan dalam menjalani hidup.

Sebagai agama penutup, islam begitu terrinci mengajarkan tentang kehidupan ummat beragama. Islamlah satu-satunya agama yang mempunyai sikap toleransi atau hubungan yang tinggi terhadap pemeluk agama lain. Dengan demikian, jika berbicara kerukunan ummat beragama, toleransi umat beragama atau hubungan antara ummat beragama maka islamlah yang harus lebih dulu tampil kedepan. Pada lintas sejarah Islam, ummat Islam menjunjung tinggi toleransi atau hubungan antara ummat beragama danbersikap lapang dada, serta memperlakukan dengan baik terhadap orang-orang non muslium.

Di dalam Al-Qur’an juga dianjurkan pengakuan sekaligus penghargaan atas keberagamaan dan perbedaan agama serta dialog antara ummat beragama dengan didasari kelapangan dada. Pluralisme ummat manusia merupakan keniscayaan yang melanda di era globalisasi, hal ini ditandai oleh semakin majemuknya wacana sosial, cultural, dan keagamaan. Keadaan ini dapat membuka semakin lebarnya kemungkinan terjadi benturan-benturan atau konflik antar kelompok. Oleh sebab itu keyakinan akan Tuhan (agama) tidak dapat dipaksakan.[6] Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Baqarah ayat : 256

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaqhut (segala persembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat (Islam) yang tidak akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

 Didalam ayat itu sudah jelas bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk suatu agama, tetapi yang terjadi manusia selalu membuat kerusuhan atas dasar agama. Bagaimana bisa terjadi kerukunan antar umat beragama, jika setiap pemeluk agama tidak ingin hidup rukun dengan menerima perbedaan orang lain baik yang berupa keyakinan atau agama maupun toleransi antar sesame ummat beragama. Setiap agama mengajarkan untuk hidup rukun dan saling menghargai perbedaan yang ada. Tetapi pengalaman yang mereka lakukan justru fanatik terhadap agamanya masing-masing. Tugas ummat beragama, bukan berusaha mengubah agama orang lain untuk mengikuti agama yang dianutnya. Jika ini yang menjadi landasannya, maka kekacauan pasti akan timbul. Tujuan dakwah atau misi agama sangat mulia, yakni berusaha membagi keselamatan yang diyakini seseorang kepada orang lain.

Harnold Cowarld menyatakan bahwa dunia selalu memiliki pluralisme keagamaan.[7] Dalam pluralisme keagamaan tidak lepas adanya toleransi agama seperti juga yang terjadi pada suatu kelompok marginal diantaranya pada masyarakat desa Kasaran, Pasungan, Kec. Ceper, Kab. Klaten. Antara ummat Islam yang mayoritas kepada ummat Katholik yang minoritas bisa menciptakan toleransi antar agama dilingkungnnya dengan baik dan juga bersosialisasi dengan sesamanya. Semua penduduk berbaur dalam aktifitas kemasyarakatan secara normal, mereka melakukan kerjasama dalam berbagai bidang kegiatan tanpa memandang identitas agama masing-masing.

Bahkan dalam kegiatan keagamaanpun, seberti ketika warga yang beragama Islam merayakan hari Raya Idul Fitri, warga yang beragama Katholik menghormatinya bahkan mereka ikut merayakannya. Persiapan-persiapan yang dilakukan oleh warga yang beragama Katholik dalam menyambut dan merayakan hari raya Idil Fitri hampir sama dengan persiapan yang dilakukan oleh ummat Islam pada umumnya, tapi hanya sebatas perayaannya saja bukan ritual keagamaanya. Mereka juga saling mengunjungi saudara-saudara mereka baik yang beragama Islam maupun sesama ummat Katholik. Mereka juga saling bermaafan, saling mengirim parsel, open house, menyediakan aneka masakan lebaran. Ummat Islampun juga mengunjungi warga lain atau saudara mereka yang beragama Katholik, mereka juga saling bermaafan, saling mengirim parsel. Begitupun ketika ummat Katholik merayakan hari raya Natal, warga yang beragama Islam pun juga menghadiri perayaan Natal yang diadakan oleh ummat Katholik dirumah mereka. Tetapi juga hanya sekedar perayaannya saja.

Perayaan hari raya Idul Fitri dan Natal tersebut merupakan momentum yang baik untuk lebih menumbuhkan dan meningkatkan sikap toleransi antar ummat beragama khususnya di desa Kasaran. Dengan meningkatnya toleransi diharapkan dapat terjalin rasa saling menghargai dan menghormati antar ummat beragama.  Terjalinnya rasa saling menghargai dan menghormati antar ummat beragama itu, pada gilirnnya diharapkan dapat menciptakan perdamaian dan kerukunan pada masyarakat desa Kasaran.

Tidak hanya dalam kontek perayaan hari raya saja, ketika ada salah seorang dari ummat agama yang satu sedang mendapatkan musibah, maka ummat agama lain tidak hanya tinggal diam, mereka saling membantu baik berupa materiil maupun berupa semangat atau nasehat-nasehat yang bisa menjadi spirit untuk menjadi lebih baik.

Dihadapan seluruh umat manusia, keyakinan keagamaan menuntut bahwa setiap manusia harus diperlakukan secara manusiawi. Ini berarti bahwa setiap manusia tanpa melihat perbedaan jenis kelamin, ras, warna kulit, kemampuan fisik atau mental, bahasa, agama, pandangan politik, latar belakang sosial atau nasional, memiliki martabat yang asasi dan tidak dapat diganggu gugat.

Ada sebuah prinsip yang terdapat dalam banyak tradisi keagamaan dan etika kemanusiaan selama beribu-ribu tahun “apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan padamu, jangan lakukan pada orang lain” atau dalam tema positif ”apa yang ingin kamu lakukan untuk dirimu sendiri, lakukan pada orang lain”. Maksudnya adalah jika kita tidak ingin disakiti oleh orang lain maka jangan menyakiti orang lain. Inilah yang menjadi norma yang tidak bisa diganggu gugat, berlaku universal bagi semua wilayah kehidupan, keluarga dan komunitas, ras, bengsa dan agama-agama.